Selasa, 23 Oktober 2012

Organisasi Pramuka yang Tidak Mandiri


SATU momentum yang tidak akan pernah dilupakan oleh jajaran gerakan Pramuka adalah dileburnya seluruh organisasi kepanduan menjadi satu wadah dalam Gerakan Pramuka Indonesia.
Dan tanggal 14 Agustus ditetapkan sebagai Hari Pramuka yang pada saat ini genap berusia 45 tahun. Ibarat umur manusia usia 45 tahun merupakan usia dewasa dan mandiri. Pertanyaannya apakah gerakan Pramuka telah dewasa dan mandiri?
Dalam anggaran dasar disebutkan tujuan gerakan Pramuka mendidik dan membina kaum muda guna mengembangkan mental, moral, spiritual, emosional, sosial, intelektual dan fisiknya sehingga menjadi manusia yang berkepribadian, dan berbudi pekerti luhur. Juga menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri. Sampai saat ini gerakan Pramuka telah memberikan sumbangsih yang besar.
Pertama, memiliki akhlak dan moral yang tinggi. Seorang anggota Pramuka selalu terikat dengan kode kehormatan yang terdiri atas janji yang disebut dengan Satya dan ketentuan moral yang disebut dengan Darma. Kode kehormatan dan ketentuan moral inilah yang pada umumnya menjadikan nilai lebih seorang anggota Pramuka dibandingkan dengan kaum muda lainnya.
Kedua, bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Seorang anggota Pramuka pastilah berusaha berbuat terbaik bagi keluarga dan lingkungannya.
Contoh kasus yang paling akhir dalam bencana gempa bumi Klaten dan Yogya, Pangandaran dan Cilacap. Pramuka aktif terlibat dalam membantu meringankan penderitaan korban. Ketiga, menjaga dan mempertahankan NKRI.
Berbagai kegiatan berskala nasional seperti Jambore Nasional antara lain dimaksudkan mempererat rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks yang lebih luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, anggota Pramuka juga telah memberikan andil yang besar dalam menjaga, mempertahankan NKRI.
Diakui atau tidak para pejuang, tokoh, dan pemimpin bangsa yang senantiasa komitmen dalam mempertahankan NKRI sebagian di antaranya anggota atau pernah menjadi anggota Pramuka.
Kedewasaan
Kedewasaan organisasi bukan hanya diukur dari berapa usia organisasi tersebut tetapi bagaimana pengelolaan manajerial dilaksanakan selama ini. Jika pengelolaan manajerial organisasi tidak ada peningkatan kualitas hal itu dapat kita jadikan indikasi gerakan Pramuka masih kurang dewasa. Hal ini dapat kita amati dari berbagai aspek seperti, pertama, kurangnya pembinaan gudep teritorial.
Gerakan Pramuka memiliki jumlah anggota yang diperkirakan mencapai puluhan juta orang. Keanggotaan terbanyak disumbang dari gudep berpangkalan di sekolah.
Gudep yang berpangkalan di sekolah-sekolah umumnya tidak memiliki kesatuan yang lengkap. Idealnya setiap gugus depan (gudep) memiliki kesatuan yang lengkap terdiri atas Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak dan Racana Pandega.
Kedua, kurangnya kuantitas dan kualitas pembina.
Keberhasilan suatu gugus depan dalam membina anak didik sangat tergantung dari kuantitas dan kualitas para pembina. Jumlah pembina yang tidak sebanding dengan jumlah anak didik serta pembina yang sangat terbatas yang memiliki sertifikasi mahir merupakan kondisi yang selalu terjadi dari tahun ke tahun. Karenanya tidak mengherankan jika kita temui di dalam satu gudep terdapat pembina Pramuka yang tidak memiliki sertifikasi mahir apa pun.
Ketiga, kurangnya kepedulian andalan dan majelis pembimbing. Komponen ini merupakan roh dari sukses tidaknya kegiatan Pramuka. Andalan dan majelis pembimbing yang sebagian besar tokoh masyarakat memiliki berbagai kesibukan sehingga kontribusi meningkatkan kualitas menjadi terbatas sekali. Keempat, aspek kegiatan rutin.
Guna membentuk sikap pribadi yang berakhlak dan bermoral tinggi kiranya tidak cukup dilakukan secara sporadis seperti menghadapi peristiwa tertentu seperti pesta siaga dan jambore.
Kiranya menjadi lebih bermanfaat jika pembinaaan dilakukan secara rutin.
Bukankah tugas dan tanggung jawab Kwartir salah satunya melakukan pembinaan.
Namun sayangnya pembinaan, monitor dan evaluasi secara rutin ini belum direalisasi oleh masing-masing Kwartir.
Kelima, kurangnya dukungan anggaran. Kedewasaan dan kemandirian organisasi Pramuka dapat diukur pula dengan indikator anggaran organisasi. Dari aspek anggaran organisasi untuk kegiatan dan pembinaan jika hanya mengandalkan iuran dari anggota kiranya akan dihadapkan pada berbagai kendala. Namun jika terlalu mengandalkan bantuan anggaran bersumber dari APBD seperti selama ini, yang terjadi adalah tidak adanya anggaran untuk menutup berbagai kegiatan Kwartir. Hal ini pun sering terjadi dari tahun ke tahun dan sangat dirasakan utamanya oleh Kwartir. Karenanya perlu lebih ditingkatkannya kerja sama dengan pihak lain serta membentuk badan usaha.
Upaya ini tidak bertentangan dari anggaran dasar.
Akhirnya renungan di atas dapat dijadikan introspeksi jajaran Pramuka agar semakin dewasa dan mandiri.
- Drs Sigit Djoko Sutomo, mantan Andalan Daerah Kwarda XI Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar